Komunikasi Lintas Budaya
Nama :
Alfareza Zuha Pahlevi
NIM :
B05219004
Kelas/Semester :
E1/Semester 3
Resume Komunikasi Lintas Budaya
1.
Pengertian Komunikasi Lintas Budaya
Komunikasi
lintas budaya merupakan suatu komunikasi yang dilakukan dengan latar belakang
komunikan dan komunikator yang berbeda yang dapat menimbulkan suatu kesalahan
pengertian sehingga menghasilkan respon yang berlawanan dengan tujuan. Untuk
menghindari hal tersebut maka antara komunikan dan komunikator perlu merubah
cara pandang baru dalam memahami perbedaan.
Dalam
komunikasi lintas budaya seseorang seharusnya lebih memahami perbedaan dalam
konteks budaya, kebiasaan dari seseorang yang diajak berkomunikasi. Dan seorang
komunikan atau komunikator sebaiknya menghilangkan stereotype dalam komunikasi
untuk menghindari kesalahpahaman atau pertikaian dalam proses komunikasi.
1)
Komunikasi
Vertikal dan Horizontal
Dalam memenuhi
kebutuhan hidup kita kita tidak mungkin terlepas dari proses komunikasi, baik
hablum minallah (komunikasi/interkasi dengan sang kuasa/allah) yang kita sebut
komunikasi vertikal, hablumminannas (komunikasi & berinteraksi sesama
manusia) maupun komunkasi/interaksi dengan alam sekitar yang kita sebut
komunikasi verikal. Artinya agar kita eksis maka komunikasi merupakan faktor
penting bagi setiap manusia.
Eksistensi manusia dimuka bumi juga beragam dan salah satu diantara
penentu sukses & tidaknya eksistensial manusia dalam kehidupan juga
dipengaruhi oleh faktor pemahaman & kemampuan komunikasiny dan dalam proses
komunikasi kita dihadapkan dengan fenomena komunikasi interpersonal,
intergroup, ataupun interpersonal-group.
Kode - kode etik setiap manusia juga perbedaan kebiasaan budaya
setiap daerah, kita sebagai komunikator harus bisa menghargai/menjaga sikap
kita terhadap komunikan saat sedang berkomunikasi. Lalu dalam berkomunikasi
seseorang harus bisa memposisikan diri dengan mempersiapkan untuk mempelajari
tentang bagimana refrensi lawan bicara kita, agar supaya ada pengurangan ke
tidak pastian saat kita berkomunikasi atau bisa disebut dengan istilah
nyambung/saling memahami saat berkomunikasi dengan orang yang memiliki
pengetahuan lebih luas dari kita.
2.
Teori Komunikasi Lintas Budaya
Membahas mengenai teori komunikasi lintas budaya, yakni :
1)
Teori
negosiasi wajah : Bagaimana orang2 dari budaya berbeda dapat menjalin hubungan,
dan juga menyelesaikan masalah berdasarkan muka di setiap budaya. Wajah juga
dapat mencerminkan gambaran diri terhadap orang lain.
2)
Teori
Pengurangan ketidakpastian : Ketika bertemu dengan orang yang baru dikenalnya,
seseorang cenderung tidak memiliki definisi yang akurat terhadap orang
tersebut, sehingga menimbulkan keadaan yang tidak mengenakkan. untuk mengatasi
hal ini strategi nya ialah dengan pencarian informasi melalui komunikasi.
3)
Teori
bahasa dalam budaya : Bahasa merupakan alat verba untuk komunikasi, ada yang
mengatakan bahwa bahasa sangat dipengaruhi kebudayaan, sehingga segala hal yang
ada dalam kebudayaan akan tercermin di dalam bahasa. Sebaliknya, ada juga yang
mengatakan bahwa bahasa sangat dipengaruhi kebudayaan dan cara berpikir manusia
atau masyarakat penuturnya.
4)
Teori
Pelanggaran : menggambarkan bahwa seseorang memiliki harapan kepada orang lain
yang dapag memberikan kenyamanan.
5)
Teori
Speech code : mengenai kata-kata yang khas dari sebuah kebudayaan dan juga
menekankan pada aspek perbedaan antara suatu budaya dengan kebudayaan lainnnya
atau kecirikhasan. tujuan teori, untuk memahami perbedaan budaya dan bagaimana
proses menyesuaikan diri pada suatu kebudayaan.
Jika seseorang tidak mengenali tentang pemahaman komunikasi
interpersonal maupun lintas budaya akan cenderung jadi masalah, sementara jika
kita memahami karakter & teori2 komunikasi maka kita akan survive dalam
mengahadapi universalisasi & teknonolgi komunikasi yang berkembang khususnya
Komunikasi lintas budaya.
Lalu dalam
berkomunikasi face (wajah) itu merupakan bagian alat untuk komunikasi, jadi
raut wajah kita dapat menentukan hasil komunikasi yang kita inginkan (ekpresi
marah sudah barang tentu berbeda dengan ekspresi cinta) maka jangan salah
meletakkan ekspresi mana untuk apanya.
3.
Definisi Komunikasi Lintas Budaya
Definisi : Sebutan Komunikasi Lintas Budaya (cross culture) sering
digunakan untuk menyebut makna Komunikasi Antar Budaya (interculture), tanpa
dibatasi konteks geogafis, ras dan etnik. Karenanya, Komunikasi Lintas Budaya
didefinisikan sebagai analisis perbandingan yang memprioritaskan relativitas
kegiatan kebudayaan. Komunikasi Lintas Budaya umumnya lebih terfokus pada
hubungan antar bangsa tanpa harus membentuk kultur baru sebagaimana yang
terjadi dalam Komunikasi Antar Budaya (Purwasito, 2003).
4.
Ruang Lingkup Komunikasi Lintas Budaya
Ruang lingkup : Penelitian komunikasi lintas budaya memfokuskan
perhatian pada bagaimana budaya-budaya yang berbeda berinteraksi dengan proses
komunikasi bagaimana komponen-komponen komunikasi berinteraksi dengan
komponen-komponen budaya. Ruang lingkup komunikasi antarbudaya dapat dirinci ke
dalam empat wilayah utama, yaitu: Mempelajari komunikasi antarbudaya dengan
pokok bahasan proses komunikasi antarpribadi dan komunikasi antarbudaya
termasuk di dalamnya, komunikasi di antara komunikator dan komunikan yang
berbeda kebudayaan, suku bangsa, ras
5.
Dimensi Komunikasi Lintas Budaya
Dimensi : ada 3 dimensi yang perlu diperhatikan (kim. 1984 :
17-20).
1)
Tingkat
masyarakat kelompok budaya dari partisipan-partisipan komunikasi.
2)
Konteks
sosial tempat terjadinya KAB.
3)
Saluran
yang dilalui oleh pesan-pesan KAB (baik yang bersifat verbal maupun non verbal).
Dimensi pertama menunjukkan bahwa istilah kebudayaan telah
digunakan untuk merujuk pada macam-macam tingkat lingkupan dan kompleksitas
dari organisasi sosial.Umumnya istilah kebudayaan mencakup beberapa pengertian
sebagai berikut :
1)
Kawasan-kawasan
dunia, misal : budaya timur, budaya barat
2)
Subkawasan-kawasan
di dunia, misalnya: budaya Amerika Utara, budaya Asia Tenggara.
3)
Nasonal/negara,misalnya:
budaya Indonesia,budaya Perancis, budaya Jepang.
4)
Kelompok-kelompok
etnik-ras dalam negara seperti ; budaya orang Amerika Hitam,Budaya Amerika
Asia, Budaya Cina-Indonesia.
5)
Macam-macam
subkelompok sosiologis berdasarkan kategorisasi jenis kelamin, kelas sosial,
coundercuklture (budaya Hippis, budaya
orang di penjara,budaya gelandangan, budaya kemiskinan)
Dimensi kedua menyangkut Konteks Sosial. Misal, konteks sosial KAB
pada: organisasi, bisnis, penddikan, akulturasi imigran, politik, penyesuaian pelancong/pendatang sementara,
perkembangan alih teknologi/pembangunan/difusi inovasi, konsultasi terapis.
Dalam dimensi ini bisa saja muncul variasi kontekstual, misalnya, komunikasi
antarorang Indonesia dengan Jepang dalam suatu transaksi dagang akan berbeda
dengan komunikasi antarkeduanya dalam berperan sebagai dua orang mahasiswa dari
suatu universitas. Dengan demikian konteks sosial khusus tempat terjadinya KAB
memberikan pada para partisipan hubungan-hubungan antarperan,
ekspektasi-ekspektasi, norma-norma, dan aturan-aturan tingkah laku yang khusus.
Dimensi ketiga, berkaitan dengan saluran komunikasi. Secara garis
besar, saluran dapat dibagi atas :
·
Antarpribadi/orang
·
Media
massa
Bersama-sama
dengan dua dimensi sebelumnya, saluran komunikasi juga memengaruhi proses dan
hasil keseluruhan dari Komunikasi Antar Budaya. Misalnya,orang Indonesia
menonton melalui TV keadaan kehidupan di Afrika akan memiliki pengalaman yang
berbeda dengan keadaan apabila ia sendiri berada di sana dan melihat dengan
mata kepala sendiri. Umumnya, pengalaman komunikasi antarpribadi dianggap memberikan dampak yang
lebih mendalam.Komunikasi melalui media kurang dalam feedback langsung
antarpartisan dan oleh karena itu, pada pokoknya bersifat satu arah.Sebaliknya,
saluran antarpribadi tidak dapat menyaingi kekuatan saluran media dalam
mencapai jumlah besar manusia sekaligus bersifat antarbudaya bila partisipan-partisipannya
berbeda latar belakang budayanya.
Ketiga dimensi
di atas dapat digunakan secara terpisah ataupun bersamaan,dalam
mengklasifikasikan fenomena komunikasi antarbudaya khusus.Misalnya: kita dapat
menggambarkan komunikasi antara Presiden Indonesia dengan Dubes baru dari
Nigeria sebagai komunikasi internasional, antarpribadi dalam konteks politik;
komunikasi antara pengacara AS dari keturunan Cina dengan kliennya orang AS
keturunan Puerto Rico sebagai komunikasi antarras/antaretnik dalam konteks
bisnis;komunikasi imigran dari Asia di Australia sebagai komunikasi
antaretnik,antarpribadi dan massa dalam konteks akulturasi.
6.
Komunikasi Internasional
Komunikasi internasional adalah bentuk dari hubungan politik antar
negara dalam ranah internasional. Komunikasi internasional digunakan sebagai
representasi komunikasi sebuah negara dalam mempengaruhi perilaku politik
negara lain yang terkait. Yang termasuk kepada ranah komunikasi internasional
pada penjelasan ini adalah propaganda, diplomasi, pertahanan, dan informasi
serta tidak memasukkan penyebaran agama dan pendidikan di dalamnya.
Beberapa kriteria yang menjadi ciri khas komunikasi international:
1)
Isu
yang ada dalam komunikasi internasional memiliki jenis isu yang bersifat
global, mencakup isu-isu yang menjadi fokus banyak negara.
2)
Para
pelaku komunikasi yang ada di dalamnya, yaitu komunikator dan komunikan atau
pemberi dan penerima pesan, memiliki kebangsaan yang berbeda satu sama lain.
Atau dengan kata lain, para pelaku komunikasi internasional berasal dari negara
yang berbeda-beda.
3)
Sarana
yang menjadi saluran media yang digunakan dalam proses komunikasi internasional
pun bersifat internasional dan berada dalam ranah global. Berikut adalah
beberapa fungsi komunikasi internasional dalam penerapannya:
a)
Membangun
dan mempererat hubungan internasional antar negara dengan meningkatkan
kerjasama dan menghindari berbagai konflik, baik konflik satu negara dengan
negara lain maupun konflik pemerintahan dengan masyarakat pada suatu negara.
b)
Membangun
dinamisme hubungan antar negara dan menjalin hubungan baik taraf internasional
dengan mencakup kajian dan fokus di berbagai bidang dan kelompok masyarakat
pada masing-masing negara maupun antar negara.
c)
Berperan
sebagai pendukung pelaksanaan politik luar negeri yang baik dan berkualitas
pada negara-negara yang terkait dalam melaksanakan kepentingannya satu sama
lain. Perspektif komunikasi internasional
· Perspektif diplomatik, yang sesuai dengan namanya berarti diplomasi
yang dilakukan antar negara.
· Perspektif jurnalistik, yang sesuai dengan namanya maka perspektif
ini dilaksanakan melalui saluran atau channel media massa.
· Perspektif propogandistik yang memiliiki sedikit kesamaan dengan
perspektif jurnalistik, yaitu menggunakan kekuatan media massa. Namun
perbedaannya adalah perspektif propogandistik lebih mengacu kepada penyebaran
dan penanaman ide serta gagasan milik satu negara kepada masyarakat di negara
lain untuk dapat mempengaruhi pemikiran, perasaan, dan tindakan mereka.
7.
Teori-Teori Komunikasi Internasional
Teori -teori komunikasi internasional:
1.
Komunikasi
arus bebas
Teori ini
berkenaan dengan arus informasi yang muncul secara bebas. Teori ini lahir
ketika menjelang akhir perang dunia ke 2 dan bermula di negara Amerika Serikat.
Secara dasar teori ini sebenarnya menjelaskan tentang adanya pasar bebas dan
liberal yang diperjuangkan oleh para pemilik media untuk mendapatkan hak-hak
mereka dalam menjual atau membagikan informasi secara bebas.
2.
Teori
Modernisasi
Teori
modernisasi ini muncul dari gagasan bahwa komunikasi massa internasional
digunakan sebagai model menyebarkan ekonomi dan politik yang modern ( negara
maju/barat) kepada negara yang dianggap tradisional (negara-negara berkembang).
Teori
Modernisasi ini adalah teori pembangunan yang menyatakan bahwa pembangunan
dapat dicapai melalui mengikuti proses pengembangan yang digunakan oleh
negara-negara berkembang saat ini. Teori ini mendefinisikan kualitas yang
membedakan "modern" dan "tradisional" masyarakat.
Pendidikan dilihat sebagai kunci untuk menciptakan individu modern. Teknologi
memainkan peran kunci dalam teori pembangunan karena diyakini bahwa teknologi
ini dikembangkan dan diperkenalkan kepada negara-negara maju yang lebih rendah
akan memacu pertumbuhan ekonomi. Salah satu faktor kunci dalam Teori
Modernisasi adalah keyakinan bahwa pembangunan memerlukan bantuan dari
negara-negara maju untuk membantu negara-negara berkembang untuk belajar dari
perkembangan mereka. Dengan demikian, teori ini dibangun di atas teori bahwa
ada kemungkinan untuk pengembangan yang sama dicapai antara negara maju dan
dikembangkan lebih rendah.
3.
Teori
Ketergantungan
Teori yang
muncul di Amerika latin pada akhir 1970an ini memiliki berbagi penjelasan,
teori ini sejatinya bertujuan untuk memperkuat dominasi negara maju dan
mempertahankan negara berkembang dalam posisi ketergantungan.
4.
Imperialis
Struktur
Merupakan teori
yang berpandangan mengecam dominasi negara maju terhadap negara berkembang.
Tujuannya untuk mempersoalkan keterbelakangan dan pembangunan negara dunia
ketiga dan menantang hegemoni ekonomi, politik, budaya negara maju dalam
berskala global.
5.
Teori
Hegemoni
Dalam
Komunikasi internasional hegemoni ini digunakan untuk mengkonseptualisasikan
fungsi politik media massa sebagai konsep dasar dalam menyebarkan dan
mempertahankan ideologi yang dominan kepada negara yang didominasi. Hegemoni
dapat diartikan sebagai konsep penguasaan secara halus suatu negara terhadap
negara lain terkait dengan berbagai aspek. Media massa internasional sangat
berpengaruh didalam memperkuat konsep hegemoni ini terlebih oleh negara-negara
maju terhadap negara berkembang.
6.
Teori
Kritik
Merupakan
pemikiran yang menekankan penilaian refleksi dan kritik dari masyarakat dan
budaya dengan menerapkan pengetahuan dari ilmu-ilmu sosial humaniora. Humaniora
adalah ilmu yang mempelajari tentang cara membuat atau mengangkat manusia
menjadi lebih manusiawi dan berbudaya.
7.
Ruang
Publik
Teori ini
menjelaskan tentang adanya ruang didalam berkomunikasi melalui dunia nyata dan
dunia maya, ruang publik ini memiliki berbagai cakupan yang sangat luas seperti halnya saat
konferensi pers, adanya acara besar seperti acara Asian Games, pertemuan PBB
dengan diiringi komunikasi dalam media sosial terkait hal yang sedang populer
secara global.
8.
Wacana
Globalisasi
Wacana
globalisasi adalah sebuah proses masuk ke ruang lingkup dunia secara sistematis
dan masuk akal. Wacana globalisasi ini dapat ditandai dengan pesatnya
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi suatu negara sehingga ia mampu
berpengaruh mengubah dunia secara mendasar. Wacana globalisasi ini sangat
berhubungan dengan komunikasi internasional dimana komunikasi internasional ini
sangat memerlukan media yang dapat menghubungkan satu negara dengan negara
lain(global).
8.
Proses Komunikasi
Dalam proses
komunikasi pesan berisi pikiran, ide atau gagasan,perasaan yang di kirim
komunikator kepda komunikan dalam bentuk simbol. Simbol adalah sesuatu yang
digunakan untuk mewakili maksud tertentu.Dalam model komunikasi antar budaya
pesan adalah apa yang ditekankan atau yang di alihkan oleh komunikator kepada
komunikan. Aspek daya tarik pesan saja tidak cukup,akan tetapi pesan juga perlu
mendapat perlakuan. Pilihan isi dan perlakuan atas pesan tergantung dari
keterampilan komunikasi,sikap,tingkat pengetahuan,posisi dalam sistem sosial
dan kebudayaan.
Dalam proses
komunikasi antar budaya media merupakan tempat,saluran yang dilalui oleh pesan
atau simbol yang di kirm melalui media tertulis misalnya
surat,telegram,faksimili.Juga media masa cetak seperti majalah,surat kabar dan
buku,media massa elektronik,radio,televisi dll.Tetapi kadang-kadang pesan itu
di kirim tidak melalui media,terutama dalam komunikasi antar budaya tatap muka
·
Teori
kecemasan dan ketidakpastian
Teori ini
dikembangkan oleh William Gudykunts yang memfokuskan pada perbedaan budaya
antar kelompok dan orang asing. Ia menjelaskan bahwa teori ini dapat digunakan
dalam segala situasi dan kondisi berkaitan dengan terdapatnya perbedaan
diantara keraguan dan ketakutan. Gudykunts berpendapat bahwa kecemasan dan
ketidakpastian yang menjadi penyebab kegagalan komunikasi antar kelompok.
Contohnya, mahasiswa Universitas Darussalam yang bukan alumni Gontor akan lebih
sulit mengerti dan memahami pelajaran yang berbahasa arab. Dia harus belajar
lebih untuk memahami bahasa arab agar jalannya komunikasi antara mahasiswa NK
(non KMI) dan alumni KMI maupun dosen dapat berjalan dengan baik.
·
Teori
negosiasi wajah
Teori yang di
kemukakan oleh Stella Ting-Toomey ini menjelaskan bagaimana perbedaan-perbedaan
dari berbagai budaya dalam merespon berbagai konflik yang dihadapi. Ia
berpendapat bahwa orang-orang dalam setiap budaya akan selalu mencitrakan
dirinya didepan publik, hal tersebut merupakan cara baginya agar orang lain
melihat dan memperlakukannya. Lebih lanjut Ia menjelaskan bahwa wajah bekerja
merujuk pada pesan verbal dan non verbal yang membantu menyimpan rasa malu, dan
menegakkan muka terhormat. Contohnya pemahaman mahasiswa terhadap dosen yang
bersuku batak yang ketika bicara dengan berbicara dengan nada tinggi
menimbulkan pesan non-verbal yang
berbeda-beda pada mahasiswa dalam menangkap pesan yang di sampaikan, ada yang
menganggap dosen ini galak dan juga ada yang memahami bahwasannya seperti
itulah logatnya dalam berkomunikasi.
·
Teori
Kode Bicara
Gerry
Phillipsen dalam teorinya ini berusaha menjelaskan bagaimana keberadaan kode
bicara dalam suatu budaya. Dan juga bagaimana kekuatan dan dan substansinya
dalam sebuah budaya. Contohnya mahasiswa yang memiliki latar budaya yang sama
seperti sama-sama orang jawa akan faham dengan panggilan-pangilan sapaan
seperti “lur” (singkatan dari sedulur yang berarti saudara) atau sesama orang
malang yang biasa membalik kata seperti “Sam” (yang harusnya mas yang berarti
abang/kakak).
1.
Model
Komunikasi Antarbudaya Menurut Porter & Larry A. Samovar
Budaya
mempengaruhi prilaku komunikasi individu, budaya yang berbeda akan menghasilkan
pengaruh serta sifat komunikasi yang berbeda pula. Ketika seorang individu
berkomunikasi dengan individu lain yang memiliki kebudayaan berbeda maka makna
pesan yang disampaikan komunikator akan berubah mengikuti persepsi budaya
komunikan.
Misalkan
individu dengan budaya A menyampaikan pesan kepada individu dengan budaya B dan
budaya C, dimana budaya A dengan budaya B memilki lebih banyak kemiripan
sedangkan budaya C memiliki perbedaan yang cukup besar dibanding budaya A. Maka
pesan yang diterima B hanya akan sedikit berubah, cukup mendekati pesan asli
yang disampaikan oleh A, karena memiliki persepsi budaya yang mirip dengan A.
Namun pesan yang diterima oleh C akan sangat berbeda, sebab dipengaruhi budaya
yang sangat berbeda pula.
Contohnya
komunikasi mengenai eksistensi Tuhan yang dilakukan oleh individu yang beragama
Kristen (budaya A) dengan individu yang beragama Islam (budaya B). Keduanya
akan sepakat bahwa Tuhan itu memang ada. Berbeda jika komunikasi mengenai
eksistensi Tuhan dilakukan oleh individu beragama tersebut (budaya A) dengan
seorang atheis (budaya C). Maka komunikasi tidak akan efektif, sebab terdapat
persepsi yang sangat berbeda mengenai keberadaan Tuhan, budaya A mengakui
adanya Tuhan, namun budaya C tidak mengakui adanya Tuhan.
2.
Model
Komunikasi Antar Budaya Menurut William B. Gudykunst dan Young Yun Kim
Model
komunikasi antar budaya menurut
William B.Gudykunst dan Young Yun Kim
merupakan komunikasi yang dilakukan oleh orang-orang yang berasal dari budaya
yang berlainan, atau orang asing. Dalam model ini, masing-masing individu
berperan sebagai pengirim sekaligus juga penerima pesan. Dengan begitu, pesan
yang disampaikan seseorang merupakan umpan balik untuk lawan bicaranya. Terjadi
penyandian serta penyandian balik pesan.
Gudykunst dan
Kim menyatakan bahwa penyandian dan penyandian balik pesan tersebut merupakan
sebuah proses interaktif. Proses tersebut dipengaruhi oleh filter konseptual
seperti budaya, sosiobudaya, psikobudaya, dan faktor lingkungan. Persepsi
seseorang atas lingkungannya
mempengaruhi cara seseorang dalam menafsirkan rangsangan serta memprediksi
prilaku orang lain.
3.
Model Dimensi Waktu Dalam Komunikasi
Antarbudaya Menurut Tom Bruneau
Menurut model
ini waktu merupakan variable penting yang mendasari semua situasi komunikasi.
Waktu menentukan hubungan, pola hidup antar manusia, dan pola hidup manusia
tersebut dipengaruhi oleh budayanya.
Dimensi waktu meliputi perbedaan konsepsi waktu dan tempo khusus dari
tiap kelompok budaya (prilaku temporal). Terdapat dua jenis konsep waktu,
yaitu: Waktu Polikronik:
·
Konsep
waktu Polikronik memandang bahwa waktu merupakan suatu putaran yang akan
kembali dan kembali lagi. Orang yang menganut konsep ini beranggapan bahwa apa
yang dilakukan di waktu ini, merupakan sesuatu yang bisa di perbaiki di waktu
atau kesempatan lain. Misalnya ketika tidak belajar dengan baik sehigga
mendapatkan nilai buruk, pelajar yang menganut konsep waktu polikronik akan
berpikir dapat memperbaikinya di waktu lain.
Orang
yang menganut konsep polikronik juga cenderung lebih mementingkan kegiatan yang
terjadi dalam suatu waktu dibandingkan waktu itu sendiri. Cenderung lebih
menekankan keterlibatan tiap individu serta penyelesaian suatu hal, dibanding
menepati jadwal waktu. Misalnya seorang mahasiswa yang tetap bersikap santai
meski jam kuliah sudah hampir mulai, sehingga meskipun tetap masuk kuliah, mahasiswa
tersebut datang terlambat.
·
Konsep
waktu monokronik memandang bahwa waktu berjalan lurus dari masa lsilam ke masa
depan. Orang yang menganut konsep ini cenderung lebih menghargai waktu itu
sendiri, sehingga tidak ingin melewatkan waktu dengan hal yang sia-sia atau
tidak berguna. Misalnya seorang pelajar yang menganut konsep waktu monokronik
akan terus belajar dengan baik, agar dapat memperoleh nilai yang baik disetiap
kesempatan. Atau seorang mahasiswa yang menganut konsep monokronik akan
berusaha keras (terburu-buru berlari) agar tidak terlambat masuk kelas saat
kuliah.
9.
Dimensi Waktu dalam Komunikasi Antarbudaya
Dimensi waktu
dalam komusikasi antar budaya:
Waktu dan perbedaan budaya
Menurut Oswald Spengler, hal yang menyebabkan satu budaya di
bedakan dari budaya yang lain adalah makna yang secara intuitif diterapkan pada
waktu. Bagaimana analisis waktu, pewaktuan, dan tempo dalam suatu budaya
membedakannya dengan budaya lainnya. Misalnya cara suatu budaya dalam
menggunakan memori historisnya akan bersifat khas kultural.
10.
Futurisme dan komunikasi interkultural
Sama seperti
konsep perspektif masa lalu, konsep perspektif suatu budaya mengenai citra masa
depan juga akan berbeda dengan budaya lainnya. Suatu budaya akan melakukan
upaya intensif, mencari jalan baru, untuk mengembangkan cara berpikir yang
lebih maju. Cara ‘berpikir kedepan’ yang dihasilkan suatu budaya akan berbeda
dengan budaya lainnya, sehingga menghasilkan jarak yang lebih besar antara
budaya yang lebih besar antara budaya yang lebih cepat mengembangkan visi masa
depannya dengan budaya yang cenderung lambat dalam mengembangkannya.
11.
Kemacetan Lalu Lintas Budaya
Kemacetan lalu
lintas budaya dapat terjadi karena adanya frame, pengalaman, serta budaya yang
sangat berbeda antara budaya yang satu dengan yang lainnya. Mengatur waktu
(timing) dan menjaga waktu (timekeeping) di antara budaya –budaya
Menyangkut
bagaimana dan sejauh mana obyektifitas waktu yang digunakan sebuah budaya.
Bagaimana cara-cara waktu (time devices), metode menjaga waktu, dan formulasi
waktu yang objektif dalam suatu budaya. Contohnya, inti pacu dalam budaya
industri adalah keteraturan waktu. Jam merupakan mesin kunci, ritme dalam
menjalani suatu kegiatan diatur oleh jam. Berbeda dengan budaya tradisional yang tidak memandang jam
sebagai pengatur ritme.
12.
Pacu Hidup,Tempo Budaya, dan Komunikasi Intercultural
Terdapat
berbagai jenis waktu yang membentuk sistem seseorang, yaitu waktu biologis,
waktu fisiologis, waktu perseptual, waktu objektif, waktu psikologis, waktu
sosial, dan waktu kultural. Tingkatan waktu ini saling bergantung satu
samalainnya, dan bagaimana interaksi antar tingkatan waktu ini dalam diri seseorang
akan menjadi ‘kronemika’ prilaku orang tersebut. Taksonomi lingkungan waktu
Taksonomi
dikembangkan sebagai usaha persial untuk mendefinisikan kronemika prilaku
manusia. Digunakan unruk menganalisis dan menelaah prilaku waktu dan lingkungan
waktu dari interaksi manusia. Bebepa hal yang berhubungan dengan konsep waktu
ini antara lain: dorongan waktu (temporal drives), petunjuk waktu (temporal
signals), perkiraan waktu(temporal estimates), sinyal waktu (temporal signals),
lambang waktu (temporal symbols), motif waktu (temporal motives), kepercayaan
waktu (temporal beliefs), penilaian waktu (temporal judgments), dan nilai waktu
(temporal values).
13.
Hakikat Komunikasi Lintas
Budaya
Hakikat proses komunikasi lintas budaya sama dengan proses
komunikasi lain, yakni suatu proses yang interaktif dan transaksional serta
dinamis. Komunikasi lintas budaya yang interkatif adalah komunikasi yang
dilakukan oleh komunikator dengan komunikan dalam dua arah/timbal balik (two
way communication) namun masih berada pada tahap rendah (Wahlstrom, 1992).
Komunikasi transaksional meliputi 3 unsur penting yakni; (1) keterlibatan
emosional yang tinggi, yang berlangsung terus menerus dan berkesinambungan atas
pertukaran pesan; (2) peristiwa komunikasi meliputi seri waktu, artinya
berkaitan dengan masa lalu, kini dan yang akan datang; dan (3) partisipan dalam
komunikasi antarbudaya menjalankan peran tertentu.
14.
Unsur-Unsur dalam Komunikasi
1)
Komunikator
Komunikator dalam komunikasi lintas budaya adalah pihak yang
meprakarsai komunikasi, artinya dia mengawali pengiriman pesan tertentu kepada
pihak lain yang disebut komunikan.
2)
Komunikan
Komunikan dalam komunikasi lintas budaya adalah pihak yang menerima
pesan tertentu, dia menjadi tujuan atau sasaran komunikasi dari pihak lain
(komunikator).
3)
Pesan
Dalam proses komunikasi, pesan berisi pikiran, ide atau gagasan,
perasaan yang dikirim oleh komunikator kepada komunikan dalam kata-kata verbal
yang diucapkan atau ditulis, atau simbol non verbal.
4)
Media
Media merupakan tempat, saluran yang dilalui oleh pesan atau simbol
yang dikirim melalui media tertulis misalnya surat, telegram. Juga media massa
(cetak) seperti majalah, surat kabar, media massa elektronik.
5)
Efek
Tujuan dan fungsi komunikasi, termasuk komunikasi antarbudaya,
antara lain memberikan informasi, menjelaskan atau menguraikan tentang sesuatu,
memberikan hiburan, memaksakan pendapat atau mengubah sikap komunikan.
6)
Suasana
Setting of communication, yakni tempat (ruang, space) dan waktu
(time) serta suasana (sosial, psikologis) dengan komunikasi lintas budaya
berlangsung.
7)
Gangguan
Gangguan dalam komunikasi lintas budaya adalah segala sesuatu yang
menjadi penghambat laju pesan yang ditukar antara komunikator dengan komunikan,
atau paling fatal adalah mengurangi makna pesan lintas budaya.
Dalam proses komunikasi, dibutuh kan unsur-unsur komunikasi yang
dikenal dengan S – M – C- R atau Source – Message – Channel – Receiver.
Pada hakikatnya, komunikasi yaitu proses penyampaian pesan oleh
komunikator kepada komunikan, dan proses komunikasi ini dikategorikan kedalam
dua perspektif:
1.
Proses
Komunikasi dalam Perspektif Psikologis.
Proses ini terjadi pada diri komunikator dan komunikan. Ketika
terjadi proses komunikasi, penyampaian
dan penerimaan pesan oleh dan dari komunikator ke komunikasn, maka dalam diri
mereka terjadi suatu proses. Pesan yang disampaikan terdiri dari dua aspek
yakni isi pesan (the content of language) dan lambang (symbol). Konkretnya isi
pesan itu adalah pikiran dan perasaan, sedangkan lambang adalah bahasa.
2.
Proses
Komunikasi dalam Perspektif Mekanistis.
Proses ini berlangsung ketika komunikator menyampaikan pesannya
kepada komunikan secara lisan ataupun lisan. Ketika komunikator menyampaikan
pesan melalui bibir kalau lisan dan tangan jika tulisan. Dan penangkapan pesan
oleh komunikan dapat dilakukan dengan indera telinga, indera mata, dan indera
lainnya.
Proses ini diklasifikasikan juga menjadi proses komunikasi secara
primer dan secara sekunder.
a.
Proses
Komunikasi secara primer.
Proses komunikasi secar primer adalah proses penyampaian pesan
dengan menggunakan lambang (simbol) sebagai media atau saluran. Ada dua jenis
lambang ini, yaitu verbal dan non-verbal.
Lambang Verbal: Yakni bahasa, baik dalam bentuk lisan maupun
tulisan.
Lambang non-verbal: Yakni yang bukan berupa bahasa, seperti isyarat
anggota tubuh, gesture, tanda-tanda yang bukan berupa bahasa baik lisan ataupun
tulisan.
b.
Proses
komunikasii secara sekunder.
Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan
oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat atau sarana untuk
menyampaikan pesannya. Penggunaan media/alat ini dikarenakan jarak/jauhnya
antara komunikator dan komunikan, atau benyaknya jumlahnya, atau kedua-duanya.
Contoh: Menggunakan surat, surat kabar, radio, atau televisi.
Ada tiga elemen atau faktor lainnya yang juga penting dalam proses
komunikasi, yaitu:
1.
Akibat/dampak/hasil
Akibat ini terjadi pada pihak penerima/komunikan setelah menerima
pesan.
2.
Umpan
balik/feedback
Adalah tanggapan balik dari pihak penerima/komunikan atas pesan
yang diterimanya.
3.
Gangguan/noise
Adalah faktor-faktorfisik (teknis) ataupun psikologis (dapat berupa
semantic) yang dapat mengganggu atau menghambat kelancaran proses komunikasi. Menghambat
yang dimaksud adalah tidak tercapai makna yang sama sehingga terjadi
miss-komunikasi.
·
Proses
komunikasi di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pertama, pihak sumber membentuk (encode) pesan dan menyampaikannya
melalui suatu saluran tertentu. Pihak penerima kemudian mengartikan dan
menginterpretasikan pesan tersebut. Apabila penerima punya tanggapan, maka ia
kemudian akan membentuk pesan dan menyampaikannya kembali kepada si sumber.
Tanggapan yang disampaikan penerima pesan kepada sumber disebut sebagai umpan
balik (feedback). Pihak sumber kemudian akan mengartikan dan
menginterpretasikan tanggapan. Proses ini berlangsung secara sirkuler di mana
peran sumber dan penerima berlaku secara bergantian.
Suatu proses atau kegiatan komunikasi akan berjalan dengan baik
apabila terdapat pertautan minat dan kepentingan (overlaping of interest) di
antara sumber dan penerima pesan. Untuk terjadinya overlaping of interest
dituntut adanya persamaan dalam hal kerangka referensi (frame of interest) dari
kedua pelaku komunikasi. Kerangka referensi menunjuk pada tingkat pendidikan,
pengetahuan, latar belakang budaya, kepentingan, dan orientasi. Semakin tinggi
tingkat persamaan dalam hal kerangka referensi, semakin besar pula overlaping
of interest dan semakin mudah proses komunikasi berlangsung.
MATERI 6 VIDEO KONTEKSTUALISASI
15.
Apa Itu Budaya
Ada beberapa macam pengertian mengenai budaya. Ada yang menyebut
budaya sebagai tradisi atau adat istiadat; ada juga yang mengatakan budaya
sebagai interaksi sosial antara individu dan individu yang lain. Masih ada yang
mengatakan bahwa budaya adalah rasa yang tinggi terhadap sesuatu seperti
lukisan atau musik; masih ada juga yang mengatakan bahwa budaya adalah
kesopanan yang ditunjukkan sebuah masyarakat.
Pengertian budaya, budaya sebagai tradisi atau adat istiadat. Ada
juga yang mengatakan budaya sebagai interaksi sosial antara individu dan
individu yang lain. Sub budaya, budaya yang ada di dalam suatu masyarakat/
pembagian budaya yg di bagi menjadi beberapa yang lebih kecil. Tumbuh dr adanya
kelompok yang ada di dalam masyarakat. Sub budaya bisa tumbuh dari adanya
kelompok-kelompok di dalam suatu masyarakat. Perbedaan kelompok tersebut
berdasarkan karakteristik social, ekonomi dan demografi. Demografi akan
menggambarkan karakteristik suatu penduduk. Di dalam varibel demografi
tersebut, kita bisa mendapatkan sub budaya yang berbeda, yaitu suku sunda,
batak, padang. Cabang budaya suatu masyarakat bisa ditunjukkan oleh kelas
social yang ada dalam masyarakat. Kelas social menunjukkan adanya
kelompok-kelompok yang secara umum mempunyai perbedaan dalam hal pendapatan,
gaya hidup dan kecenderungan konsumsi.
Pengertian-pengertian ini hanya menyatakan sebagian dari pengertian
budaya yang utuh. Budaya lebih dari sekedar tradisi, adat-istiadat atau
kebiasaan; budaya lebih dari hubungan sosial antara manusia dan manusia
lainnya;
budaya lebih dari sekedar rasa terhadap seni; budaya lebih dari
nilai-nilai kesopanan dalam kehidupan seperti keramahan. Budaya bukan juga
hanya peradaban yang tinggi
16.
Sub-Budaya
· Sub-budaya dan Demografi
Budaya yang ada di dalam suatu masyarakat bisa dibagi lagi ke dalam
beberapa bagian yang lebih kecil. Inilah yang disebut dengan subbudaya.
Sub-budaya bias tumbuh dari adanya kelompok-kelompok di dalam suatu masyarakat.
Pengelompokan masyarakat biasanya berdasarkan usia, jenis kelamin, lokasi
tinggal, pekerjaan dan sebagainya. Suatu budaya akan terdiri dari beberapa
kelompok kecil lainnya, yang dicirikan oleh adanya perbedaan perilaku
antarkelompok kecil tersebut Perbedaan kelompok tersebut berdasarkan
karakteristik social, ekonomi dan demografi. Demografi akan menggambarkan
karakteristik suatu penduduk. Di dalam varibel demografi tersebut, kita bias
mendapatkan sub-budaya yang berbeda, yaitu suku sunda, batak, padang, dsb.
· Sub-budaya Kelas Sosial
Cabang budaya suatu masyarakat bisa ditunjukkan oleh kelas social
yang ada dalam masyarakat. Kelas social menunjukkan adanya kelompok-kelompok
yang secara umum mempunyai perbedaan dalam hal pendapatan, gaya hidup dan
kecenderungan konsumsi.
Kelas Sosial dapat ditentukan dari :
v Keluarga
Keluarga, ini sangat berpengaruh terhadap budaya seseorang, diamana
kebanyakan orang akan terbawa atau mengikuti budaya dari keturunan
v Pekerjaan
Pekerjaan sangat mempengaruhi gaya hidup dan merupakan basis
penting untuk menyampaikan prestise, kehormatan dan respek.
v Pemilikan
Pemilikan adalah symbol keanggotaan kelas, tidak hanya jumlah
pemilikan, tetapi sifat pilihan yang dibuat. Keputusan pemilikan yang
mencerminkan kelas social suatu keluarga adalah pilihan dimana untuk tinggal.
Pemilikan lainnya yang berfungsi sebagai indicator status social mencakup
keanggotaan dalam club, gaya perabot, jenis liburan, busana.
Orintasi Nilai. Nilai- kepercayaan bersama mengenai bagaimana orang
harus berperilaku- menunjukkan kelas social dimana seseorang termasuk di
dalamnya.
Setiap kelas social akan berbeda dalam hal :
-
Perilaku
pengeluaran (spending behaviour)
-
Penggunaan
produk (produk usage) : Jenis makanan, jenis pakaian,
-
Pemilihan
Merk ( Brand choice) : memiliki preferensi pada merek tertentu atau tidak
-
Perilaku
Berbelanja (shopping behaviour): tempat berbelanja, cara berbelanja
-
Ekspos
Media (Media ekspose): media yang dikonsumsi (jenis dan banyaknya)
17.
Kontekstualisasi
Kontekstualisasi
adalah usaha menempatkan sesuatu dalam konteksnya, sehingga tidak asing lagi,
tetapi terjalin dan menyatu dengan keseluruhan seperti benang dalam tekstil.
Dalam hal ini tidak hanya tradisi kebudayaan yang menentukan tetapi situasi dan
kondisi sosial pun turut berbicara. Kontekstualisasi : Usaha menempatkan
sesuatu dalam konteksnya, sehingga tidak asing lagi, tetapi terjalin dan
menyatu dengan keseluruhan.
·
Faktor
yang menimbulkan kontekstualisasi
a.
Dominasi
Budaya
b.
Teologi
tidak relevan, artinya satu pemikiran orang dengan pemikiran lainnya tidak
selaras.
c.
Gerakan
nasionalisasi
·
Fungsi-fungsi
budaya
a.
Menjadi
representasi suatu daerah atau wilayah tertentu.
b.
Sebagai
pedoman hubungan manusia atau kelompok.
c.
Memenuhi
kebutuhan masyarakat sekitar.
d.
Sebagai
media berkomunikasi dengan individu atau kelompok lain.
e.
Mendorong
terjadinya perubahan masyarakat.
f.
Menjadi
identitas bangsa secara nasional.
·
Unsur-
unsur budaya
a.
Bahasa,
media bagi seseorang untuk dapat berkomunikasi secara lisan atau verbal.
b.
Sistem
pengetahuan, pengetahuan tentang kondisi alam sekelilingnya dan sifat-sifat
peralatan yang digunakannya.
c.
Sistem
teknologi dan peralatan, cara seorang dalam mengelola dan mengumpulkan
bahan-bahan mentah hingga menjadi bahan pakai.
d.
Kesenian,
hasil karya manusia yang mengandung sisi estetika dan keindahan.
e.
Sistem
mata pencaharian dan ekonomi, yakni segala usaha atau upaya manusia untuk
medapatkan barang atau jasa yang dibutuhkan.
f.
Religi,
sistem yang terpadu antara keyakinan dan praktek keagamaan yang berhubungan
dengan hal-hal yang suci.
g.
Sistem
kekerabatan dan organisasi kemasyarakatan, sekelompok masyarakat yang
anggotanya memiliki kesamaan satu sama lain dalam suatu sistem kekerabatan
tertentu.
18.
Teori Interaksi Simbolik
Teori interaksi
simbolik merupakan teori yang memiliki asumsi bahwa manusia membentuk makna
melalui proses komunikasi. Teori interaksi simbolik berfokus pada pentingnya
konsep diri dan persepsi yang dimiliki iindividu berdasarkan interaksi dengan
individu lain. Makna diciptakan dalam
interaksi antar manusia.
Simbol adalah
objek sosial dalam interaksi yang digunakan sebagai perwakilan dan komunikasi
yang ditentukan oleh orang-orang yang menggunakannya. Orang-orang tersebut
memberi arti, menciptakan dan mengubah objek di dalam interaksi. Interaksi
simbolik adalah suatu hubungan yang terjadi secara alami antara manusia dalam
masyarakat dan hubungan masyarakat dengan individu. Interaksi yang terjadi
antar individu berkembang melalui simbol-simbol yang mereka ciptakan.
Interaksi
adalah suatu jenis tindakan yang terjadi ketika dua atau lebih objek
mempengaruhi atau memiliki efek satu sama lain.
19.
Bahasa Menjadi Lambang
Bahasa menjadi
menjadi lambang yang paling banyak digunakan dalam proses komunikasi merupakan
suatu hal yang jelas karena hanya bahasa lah yang dapat “menterjemahkan”
pikiran seseorang kepada orang lain
Bahasa adalah
alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan
oleh alat ucap manusia , Bahasa juga merupakan alat ekspresi diri sekaligus
pula merupakan alat untuk menunjukkan identitas diri. Penggunaan bahasa sebagai
simbol sekaligus cara untuk menuju satu kekuasaan. Ini merupakan satu fakta
bahwa di dalam setiap sistem sosial atau relasi sosial terdapat tujuan tertentu
yaitu kekuasaan. Di setiap relasi itulah juga memungkinkan terjadinya pertarungan-pertarungan
yang tidak lain adalah untuk mendapat-kan hal tersebut. Bahasa dalam konteks
relasi sosial tidak memandang kesamaan antara aturan dengan aturan main penggunaan
bahasa tersebut. Menjadi hal yang penting dalam konteks ini adalah tujuan dan
makna penggunaan bahasa yang lebih menunjukkan kekuasaan simbolik. Kekuasaan
simbolik atas penggunaan bahasa merupakan bentuk kekuasaan untuk mengkonstruksi
realitas melalui pemaknaan yang paling dekat dengan kehidupan sosial/kelompok
atau seseorang. Perspektif ini lebih menekankan bahwa bahasa tidak hanya
sebagai cara komunikasi dalam dunia sosial. Namun lebih dari itu bahasa dapat
digunakan untuk meng-konstruksi realitas melalui pemaknaan dunia sosial.
Penggunaan
bahasa sebagai simbolisasi mem-pertahankan kekuasaan secara sadar digunakan
oleh para penguasa, cendikia, atau bangsawan guna menunjukkan pengakuannya
dalam dominasi kelas sosial.
Daftar Pustaka
https://pakarkomunikasi.com/manajemen-komunikasi-lintas-budaya
https://pakarkomunikasi.com/komunikasi-internasional
https://www.kompasiana.com/sigit93459/5bbb981f677ffb0c666f6d12/teori-komunikasi-internasional
https://pakarkomunikasi.com/komunikasi-internasional/amp
http://digilib.uinsby.ac.id/12600/20/Bab%202.pdf
http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/05/komunikasi-antar-budaya-definisi-dan.html
https://perspektif.co/Budaya,_Pandangan_Dunia_dan_Kontekstualisasi
https://pakarkomunikasi.com/teori-interaksi-simbolik
https://neozonk.wordpress.com/2012/09/19/bahasa-sebagai-simbol-komunikasi/
Komentar
Posting Komentar